Kamis, 29 Maret 2012

PENGELOLAAN PEMBELAJARAN PAK


PENGELOLAAN PEMBELAJARAN PAK
Oleh : Albet Saragih *[1]

A. Pendahuluan
            Guru (PAK) adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. [2]  Sebagai pendidik yang professional , guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi , sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.[3] Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan dimaksud, guru berkewajiban, antara lain , merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil belajar.[4] 
Tugas guru dalam proses pembelajaran meliputi tugas pedagogis dan administratif. Tugas pedagogis √°dalah membantu, membimbing dan memimpin siswa dalam realitas pembelajaran. Sedangkan tugas administratif guru berkaitan dengan penyiapan administrasi dalam proses pembelajaran seperti menyusun Silabus, Rencana Pembelajaran, Pengembangan materi/bahan ajar, alat/instrumen penilaian, dan lainnya yang berupa dokumen.Kedua tugas guru tersebut harus dilakukan dan tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Bahkan sering dikatakan bahwa apabila persiapan administrasi guru lengkap dan baik, sepertiga tugas guru sudah berhasil. Keberhasilan proses pembelajaran PAK banyak bergantung pada kreativitas guru dalam pembelajaran.

1. Pengelolaan Dalam Proses Pengajaran PAK
            Dalam melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, di sini guru berperan sebagai seorang manejer yang mampu mengelola proses pembelajaran untuk pencapaian tujuan dalam kodisi kondusif. Dalam “memanage” atau mengelola pembelajaran, manajer dalam hal ini guru melaksanakan berbagai langkah kegiatan mulai dari merencanakan pembelajaran, mengorganisasikan pembelajaran, mengarahkan dan mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan. Peran guru sebagai manejer  diperlukan untuk menata, dan mengelola agar terjadi perubahan proses dari berpusat kepada pengajar yang bersifat mengajar (teaching) kepada siswa yang belajar (learning). Kemampuan dan kecepatan setiap siswa dalam memahami pelajaran, menjadi perhatian guru. Selain itu, disiplin yang ditegakkan, penilaian terhadap proses dan hasil kerja serta motivasi yang diberikan guru, akan membuat siswa antusias belajar. Peran guru sebagai manajer pengelola proses pembelajaran, menurut Daniel Ronda [5] dapat dilakukan sebagai berikut :
a.      Guru merencanakan tujuan belajar (Perencanaan)
b.     Guru mengorganisasikan sumber-sumber belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran (Pengorganisasian)
c.      Guru kemudian memimpin di mana dapat dilakukan lewat motivasi, stimulasi dan dorongan (pemimpin)
d.     Akhirnya guru mengawasi semua fungsi manejemen pembelajaran untuk mengetahui apakah berjalan dengan baik atau belum yang bersifat evaluatif   
Pengelolaan kegiatan belajar mengajar, menurut Suroso[6]  ada dua aspek yaitu :
1. Pengelolaan tempat belajar , terdiri dari :
1)     Memperhatikan intensitas komunikasi siswa
2)     Yang dikelola (pajangan hasil kerja (portofolio), model, benda asli, kliping, dll
3)     Bergantung strategi dan tujuan pembelajaran
4)     Meja, kursi, alat-alat dan sumber pelajaran.
2. Pengelolaan siswa
1)     Siswa dikelola secara individual, berpasangan, berkelompok, seluruh kelas
2)     Hal yang menjadi pertimbangan (jenis kegiatan, tujuan ,kegiatan, keterlibatan siswa, waktu belajar, sarana dan prasarana, dan karakteristik siswa.

Secara spesifik Pdt Janse Belandina Non Serrano,[7] mengemukakan 12 kompetensi guru PAK, seperti disarikan di bawah ini.
1)      Mampu memahami isi Alkitab secara baik dan benar
Guru PAK harus mampu menafsir Alkitab sesuai teks dan konteksnya dan mengajarkannya tanpa kepentingan tertentu.
2)      Mampu menjembatani antara persoalan sehari-hari yang dihadapi oleh peserta didik dengan berita Alkitab.
Guru PAK mampu menghasilkan relevansi antara berita Alkitab dengan kehidupan murid-muridnya sehari-hari. Firman itu menjadi pisau analisis dalam menghadapi berbagai persoalan.
3)      Mampu menguasai bahan ajar.
Sebelum guru PAK menyampaikan materi pelajarannya, hendaknya lebih dulu ia menghayati dan menguasai bahan dimaksud, topik demi topik.
4)     Menguasai prinsip-prinsip pendidikan
Guru PAK  memahami dengan baik prinsip pendidikan tentang hubungan antara guru-murid, hakekat belajar-mengajar dsb.
5)      Mampu mengelola program belajar- mengajar
Langkah-langkah pembelajaran harus dikuasai guru PAK , sehingga ia dapat mengelola kelas,dan mampu bersifat fleksibel .
6)     Mampu menggunakan beragam media dan sumber belajar dalam rangka keberhasilan proses belajar mengajar.
Penggunaan media pembelajaran dan sumber belajar yg beragam merupakan cara yg cerdas untuk menghasilakan kelas yg bergairah
7)     Mampu mengelola kelas
Pengelolaan kelas termasuk di antaranya memahami karakteristik siswa, pandai membaca situasi ketika siswa tidak memahami topik, ketiika siswa lesu, jenuh, dsb. Peranan manajerial guru dalam kelas adalah membina disiplin dan menyelenggarakan tata usaha kelas. Guru harus mengorganisir kegiatan intra dan ekstra kelas, personal siswa (pengorgansasian, penempatan, penugasan, pembimbingan siswa dan kenaikan kelas), serta fasilitas fisik kelas (pengaturan tempat duduk, ruang kelas, alat-alat pelajaran, kebersihan dan cahaya ventilasi).[8]
8)     Mampu membangun interaksi positif antara pengajar dengan peserta didik
Kemampuan guru membangun interaksi positif dengan siswa, baik yang pandai, maupun yang kurang, sehingga terjadi proses belajar-mengajar komunikatif dan akrab.
9)     Mampu membimbing dan mendampingi peserta didik dalam proses mencapai transformasi nilai-nilai kehidupan sebagai murid Yesus.
Guru PAK dalam pembelajarannya hendaknya dapat menanamkan makna bagi siswa bahwa mereka adalah murid-murid Tuhan Yesus yang meniru Dia dalam kehidupan mereka.
10) Mampu menggunakan berbagai hasil penelitian demi peningkatan visi dan kemampuan pengembangan metodologi dalam mengajar
11) Mampu menguasai prinsip-prinsip evaluasi belajar
12) Mampu membangun karakter dan integritas yang baik

Kompetensi yang dimiliki guru PAK sangat mempengaruhi proses pembelajaran yang dilakukannya. Pemahaman dan penguasaan Guru PAK akan kurikulum akan mengefektifkan pembelajaran. Donald Grrigs dalam Dien Sumiyatiningsih, GD [9], mengemukakan minimal 10 aspek kurikulum yang harus diputuskan oleh seorang guru PAK waktu mengajar di kelas selama kurang lebih 1-2 jam pelajaran. Seperti disarikan berikut ini.
1. Apa yang saya ajarkan ?
Dalam hal ini guru PAK memilih konsep kunci atau ide dasar yang menjadi
    Focus pengajarannya.
2. Kompetensi apa yang dipelajari  siswa ?
Kegiatan pengajaran apa dan bagaimana yang saya rencanakan ?
Hal ini menyangkut berbagai aktivitas dalam pengajaran baik guru terlebih siswa yg disesuaikan denga minat, kemampuan, dan kemampuan mereka sehingga bermakna
 3. Sumber-sumber belajar apa yang saya pakai dan dapat dipakai oleh peserta didik ?
4. Strategi apa yang akan saya pakai untuk memotivasi peserta didik agar mereka mau terlibat ?
    Dalam hal ini guru PAK dalam strategipembelajarannya minimal mengandung lima elemen pokok , yaitu : Pembukaan, Presentasi, Pendalaman, Tanggapan Kreatif, Penutup
5. Bagaimana ruangan harus diatur ?
         Guru PAK harus mengatur ruangan, dekorasi, meja, kursi, alat-alat LCD & bahan lainnya agar mudah dilihat, dan juga agar siswa merasa nyaman , damai belajar.
6. Pertanyaan apa yang akan saya berikan ?
Pendidikan perlu menyiapkan berbagai pertanyaan yang mendorong aktivitas mereka. Apakah berupa pertanyaan  yang menuntut jawaban informative, pertanyaan analitis, atau pertanyaan bersifat pribadi ?
7. Pilihan-pilihan apa yang akan saya pakai untuk memotivasi peserta didik agar mereka mau terlibat ?
Guru PAK menyediakan tawaran  alternatif  kegiatan untuk dilakukan demi mempertinggi motivasi dan keterlibatan semua siswa.
            8. Bagaimana seharusnya arahan-rahan yang diberikan kepada peserta didik ?
9.Bagaimana saya menanggapi peserta sesudah mereka mengucapkan atau melakukan    sesuatu ?
    Dalam hal ini  guru memberi penguatan atas tanggapan maupun pertanyaan serta atas hasil kerja siswa, baik reaksi spontan, ucapan motivasi, dsb

2.  Pembelajaran dan Sistem Belajar
Pembelajaran merupakan terjemahan dari kata instruction yang diartikan sebagai suatu upaya untuk membelajarkan subyek didik. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan/atau sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Pengertian pembelajaran merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh guru, instruktur atau pembelajar dengan tujuan untuk membantu siswa
Kegiatan ini akan mengakibatkan siswa mempelajari sesuatu dengan cara lebih efektif dan efisien.

      Pembelajaran merupakan proses mengatur lingkungan agar subyek didik belajar sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya. Aspek terpenting dari pembelajaran adalah membelajarkan siswa. Bukan memberikan pelajaran kepada siswa. Pembelajaran adalah proses pembelajaran antara guru dan murid. Kegiatan ini di dalam dunia pendidikan dikenal dengan istilah PBM (Proses Belajar Mengajar). Di dalam PBM terkandung dua hal pokok yaitu kegiatan guru dalam mengajar-dalam arti membelajarkan siswa - dan kegiatan siswa dalam belajar. Pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu system atau proses membelajarkan subyek didik/pembelajar yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar subyek didik/pembelajar dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Dengan demikian, jika pembelajaran dianggap sebagai suatu system, maka berarti pembelajaran terdiri dari sejumlah komponen yang terorganisir antara lain tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, strategi dan metode pembelajaran, media pembelajaran/alat peraga, pengorganisasian kelas, evaluasi pembelajaran, dan tindak lanjut pembelajaran. Sebaliknya bila pembelajaran dianggap sebagai suatu proses, maka pembelajaran merupakan rangkaian upaya atau kegiatan guru dalam rangka membuat siswa belajar. Proses tersebut dimulai dari merencanakan program pengajaran tahunan, semester, dan penyusunan persiapan mengajar (lesson plan) berikut penyiapan perangkat kelengkapannya antara lain alat peraga, dan alat-alat evaluasi. Persiapan pembelajaran ini juga mencakup kegiatan guru untuk membaca buku-buku atau media cetak lainnya yang berkaitan dengan materi pelajaran yang akan disajikan kepada para siswa dan mengecek jumlah dan keberfungsian alat peraga yang akan digunakan. Pembelajaran berpusat pada siswa. Artinya, menurut Oditha Hutabarat [10] bahwa perkembangan , keberadaan, pergumulan, kebutuhan, kondisi konkrit siswa yang seringkali bervariasi haruslah menjadi pertimbangan utama guru dalam merancang pembelajaran sehingga PAK benar-benar menyentuh eksistensi siswa dan siswa mengalami perubahan, baik pengetahuan, sikap, keterampilan, dan nilai-nilai dalam dirinya sesuai dengan nilai-nilai luhur yang diwujudkan dalam diri Yesus Kristus Tuhan yang mendasari pembelajaranPAK.
           Dalam proses pembelajaran hal-hal yang dikerjakan adalah aktivitas memulai, mengembangkan, dan mengakhiri pembelajaran.  Dalam kaitan ini,  Dien Sumiyatiningsih [11] mengemukakan ada lima tahap dalam rencana pembelajaran seperti disarikan di bawah ini.
1)     Memulai pembelajaran
Aktivitas pertama yang sangat penting bagi guru-murid dalam PBM adalah pembukaan/ pendahuluan. Atau sering disebut sebagai kegiatan awal. Apa kegiatan awal yang bermakna, selain pujian, doa dan baca Alkitab ? Boleh juga meditasi , dengan waktu 1-10 menit.Apa kegiatan guru dan apa kegiatan murid ? Semua tercatat.Boleh juga bersama-sama menonton sesuatu tayangan lewat TV, atau LCD.
2)     Presentasi Materi
Sebelum murid mengikuti proses pengajaran bermakna, sebaiknya guru mempresentasikan informasi dasar sekaitan dengan konsep yang akan dikembangkan
3)     Pendalaman Materi
Murid akan lebih termotivasi dakam belajarnya bila mereka bekerja secara mandiri atau dalam kelompok kecil untuk mendalami materi yang diajarkan yang mana sudah disesuaikan guru dengan bakat dan minat mereka.
4)     Tanggapan Kreatif (Respon Kreatif)
Guru PAK perlu memberikan penguatan, komentar, dan umpan balik kepada siswanya. Hal ini membuat siswa semakin percaya diri, termotivasi, dan tertarik kepada pembelajaran PAK.
5)     Penutup
Setiap pertemuan seharusnya ditutup dengan suatu konklusi atau kesimpulan atas semua tahapan pembelajaran yang barusan dijalaninya.
Belajar merupakan peristiwa sehari-hari di sekolah. Belajar menurut Suroso[12] merupakan proses membangun pemahaman/pemaknaan terhadap informasi dan atau pengalaman siswa. Belajar dan mengalami dikembangkan melalui ;
1)     Pengalaman inderawi : Melihat, mendengar, meraba/menjamah, mencicipi, mencium.
2)     Pengalaman simulasi
3)     Audiovisual dan
4)     Mendengarkan informasi
Belajar merupakan hal yang kompleks. Kompleksitas belajar tersebut dapat dipandang dari dua subjek, yaitu dari siswa dan guru. Dari segi siswa belajar dialami sebagai suatu proses. Siswa mengalami satu proses mental dalam menghadapi bahan belajar. Bahan belajar tersebut berupa keadaan alam, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia, dan bahan yang telah terhimpun dalam buku-buku pelajaran. Dari segi guru proses belajar tersebut tampak sebagai perilaku belajar tentang sesuatu hal.
Siswa bukan saja aktif belajar di kelas, perpustakaan, laboratorium sekolah, mencari pengalaman kerja dalam berbagai lapangan kehidupan, tetapi juga aktif bekerja langsung di masyarakat. Dengan cara ini, semua potensi yang mereka miliki menjadi hidup dan berkembang. Siswa turut merencanakan, berdiskusi, meninjau, membuat laporan, dan lain-lain, sehingga perkembangan pribadinya selaras dengan kondisi lingkungan masyarakat.

3. Pembelajaran Sebagai Suatu Sistem

Gagne dan Briggs mendefinisikan pembelajaran sebagai suatu rangkaian events (kondisi, peristiwa, kejadian, dsb ) yang secara sengaja dirancang untuk mempengaruhi pembelajar, sehingga proses belajarnya dapat berlangsung mudah (Diknas, 2004) Pembelajaran bukan hanya terbatas pada kegiatan yang dilakukan guru, seperti halnya dengan konsep mengajar. Pembelajaran mencakup semua kegiatan yang mungkin mempunyai pengaruh langsung pada proses belejar manusia. Pembelajaran mencakup pula kejadian-kejadian yang diturunkan oleh bahan-bahan cetak, gambar, program radio, televisi, film, slide maupun kombinasi dari bahan –bahan itu. Bahkan saat ini berkembang pembelajaran dengan pemanfaatan berbagai program komputer untuk pembelajaran atau dikenal dengan e –learning. Pembelajaran sebagai  sistem adalah suatu susunan atau suatu organisasi dari suatu kesatuan yang tersusun secara rapi yang menunjukkan saling hubungan antara bagian dengan keseluruhan.
Menurut M. Asrory Ardiansyah[13] pembelajaran adalah usaha manusia yang dilakukan dengan tujuan untuk membantu menfasilitasi belajar orang lain. Manusia terlibat dalam sistem pengajaran yang terdiri dari siswa, guru, dan tenaga lainnya, misalnya tenaga laboratorium. Material, meliputi buku-buku, papan tulis, dan kapur, fotografi, slide dan film, audio dan tape. Fasilitas dan perlengkapan, terdiri dari ruang kelas, perlengkapan audio visual, juga komputer. Prosedur, meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi, praktik, belajar, ujian dan sebagainya. Pembelajaran disebut suatu sistem karena dalam pembelajaran semua unsur saling berkaitan. Antara unsur yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
  Unsur-unsur yang saling terkait antara lain; siswa, guru, bahan ajar, kurikulum, dan sebagainya.
  Pembelajaran dikatakan sebagai suatu sistem karena, di dalamnya terdapat interaksi. Interaksi ini mencakup komponen-komponen yang saling berkaitan dan tidak dapat terpisahkan , antara lain siswa, guru, sumber belajar, materi dan yang lainnya. Semua unsur tersebut mempunyai hubungan fungsional yang berinteraksi secara dinamis untuk mencapai tujuan, yaitu keberhasilan pendidikan.
Tujuan pembelajaran ialah mempersiapkan siswa untuk hidup dalam masyarakatnya. Sekolah berfungsi menyiapkan siswa untuk menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan, mereka bukan dipersiapkan untuk menghadapi masa depan yang lebih jauh, 10 atau 20 tahun ke depan, melainkan untuk memecahkan masalah-masalah sehari-hari dalam lingkungannya, di rumah dan di masyarakat. Karena itu, para siswa harus Mengenal keadaan kehidupan yang sesungguhnya dan belajar memecahkannya.
Menurut Oemar Hamalik (2001: 77) pembelajaran sebagai suatu sistem artinya suatu keseluruhan dari komponen-komponen yang berinteraksi dan berinterelasi antara satu sama lain dan dengan keseluruhan itu sendiri untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.
Pembelajaran sebagai suatu sistem yang komponen-komponennya terdiri dari: (1) Siswa, (2) Guru, (3) Tujuan, (4) Materi, (5) Metode, (6) Sarana/Alat, (7) Evaluasi, dan (8) Lingkungan/konteks.
3. Upaya-upaya Dalam Pembelajaran
Semua pedoman untuk guru sebagaimana yang juga diungkapkan di atas, dalam cara yang sama maupun tidak, biasanya memang mengandung kelima element tersebut. Meskipun kelima elemen di atas secara logis sebaiknya dilakukan berturutan, namun sering kali dalam pengalaman, pembukaan, presentasi, dan pendalaman materi  dapat dilaksanakan dengan berbagai kombinasi. Dapat pula terjadi, presentase dan pendalaman dilakukan secara simultan, terutama bila peserta didik melaksanakan pendalaman materi dengan memakai berbagi sumber pembelajaran.
Sesungguhnya, menurut Dien Sumiyatinigsih[14] terdapat berbagai macam aktivitas belajar-mengajar yang dapat kita gunakan berkaitan dengan lima elemen rencana pembelajaran di atas, seperti disarikan berikut ini.
1.     Beberapa cara untuk membuka proses pengajaran
a.      Peserta didik dapat membaca defenisi atau konsep  yang akan diajarkan
b.     Curah pendapat (brainstorming) berkaitan dengan ide-ide atau pendapat peserta didik berkaitan dengan materi pembelajaran.
c.      Pendidik dapat membaca cerita Alkitab, bagian dari kitab suci atau menanyakan aspek-aspek yang berkaitan dengan materi.
d.     Peserta didik dapat mendengarkan puisi, cerita, lagu, komentar, atau membaca puisi, yang sudah disiapkan.
e.      Peserta didik dapat melihat tayangan dari audio visual (televis, VCD, computer, dan sebaginya) sebagai pengantar materi.
f.      Pendidik dapat mengacu kepada pengalaman kelas sebelumnya, pengalaman gereja, atau komunitas.
g.     Pendidik dapat melibatkan murid dalam menentukan aktivitas pendahuluan.
h.     Pendidik dapat menggunakan koran, majalah, artikel, foto, dan sebagainya.
i.        Tambahan berdasarkan pengalaman anda.
2.     Beberapa cara untuk mempresentasikan materi
a.      Pendidik memberikan presentasi singkat (ceramah atau kuliah)
b.     Pendidik dapat memilih membaca bagian Alkitab tertentu atau dari buku-buku sumber yang dipilih.
c.      Pendidik dapat memberikan pendapatnya pada saat peserta didik melihat audio-visual: mendengarkan tape recorder, pemakaian overhead projection (OHP), slides projector, televisi, video,LCD dan sebagainya.
d.     Pendidik dapat memberikan laporan singkat mengenai kegiatan yang dilakukan sebelumnya.
e.      Dalam hal-hal tertentu, pendidik dapat mengikuti model pengajaran[15] dan menyesuaikan presentasenya berdasarkan model pengajaran yang dipilih.
f.      Pendidik dapat mengundang pembicara tamu atau narasumber lainnya yang dapat mempresentasekan materi melalui kuliah/ceramah, interview, diskusi panel, debat, dan sebagainya.
g.     Pendidik dapat bercerita secara mempesona.
h.     Pendidik dapat mempresentasikan materi dengan menggunakan peraga, misalnya dengan boneka, obyek-obyek yang hidup, gambar-gambar, dan simbol-simbol yang bermakna.
i.       Peserta didik diajak pergi untuk studi banding atau karya wisata atau mengunujngi obyek-obyek yang berkaitan dengan materi.
j.       Tambahkan sesuai dengan pengalaman anda.
3.     Beberapa cara untuk pendalaman materi
a.      Peserta didik dapat melakukan pendalaman berdasarkan minat dan bakatnya. Dalam hal ini, kita dapat mengacu kepada teori delapan kecerdasan Howard Gardner [16]
b.     Peserta didik dapat menggali dan meneliti Alkitab atau sumber-sumber buku lain.
c.      Peserta didik dapat membuat proyek untuk membuat drama, bermain peran, slides, presentase materi, dan membuat tulisan (sendiri atau bersama teman-temannya).
d.     Peserta didik mendiskusikan dan mendaratkan materi dengan pendidik dan dengan temannya.
e.      Peserta didik dapat membuat hasil karya dengan bahan-bahan yang sudah disiapkan sebelumnya.
f.      Peserta didik dapat membuat penagalaman di dalam atau di luar kelas, sendiri atau dalam kelompok kecil.
g.     Tambahkan sesuai dengan pengalaman anda.
4.     Beberapa cara memberikan tanggapan kreatif
a.      Pendidik dapat menguatkan apa yang dikatakan ataupun yang dilakukan peserta didik.
b.     Pendidik memberikan umpan balik yang bermakna bagi pengembangan selanjutnya, berkaitan dengan materi.
c.      Pendidik  memberikan saran-saran untuk meningkatkan hasil proses belajar peserta didik.
d.     Kritik yang membangun dapat dilakukan, namun lebih baik kita memberikan pendapat yang lebih positif. Sedapat mungkin, menghindari kata-kata “jangan”. Sebaliknya, perbanyak kata “sebaiknya”.
e.      Berikan pengayaan kepada peserta didik tertentu yang dianggap kurang memahami materi.
f.      Ungkapkan respon kreatif anda dengan cara yang menarik, membangun, dan penuh dengan kasih.
g.     Ungkapkan respon kreatif anda dengan cara yang dapat membuat peserta didik merasa bahwa anda menghormati mereka.
h.     Ungkapkan respon kreatif  anda secara tulus, tidak dibuat-buat.
i.       Buatlah inventarisasi yang berkaitan dengan tanggapan kreatif yang dapat anda ungkapkan pada saat yang tepat.
j.       Tambahkan sesuai dengan pengalaman anda.

5.     Beberapa cara menutup proses belajar.
a.      Setiap peserta didik dapat menceritakan (sharing) pengalaman, berkaitan dengan kreativitasnya.
b.     Pendidik memimpin diskusi penutup, peserta didik mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya.
c.      Pendidik dan peserta didik menyiapkan “kebaktian penutup”.
d.     Pendidik merangkum, menyimpulkan atau meringkaskan pengajaran.
e.      Pendidik dan/atau peserta didik menutup proses pembelajaran dengan doa atau menyannyi bersama.
f.      Seluruh kelas melakukan meditasi atau saat teduh bersama selama beberapa menit.
g.     Peserta didik dapat memimpin “ungkapan suka cita”
h.     Peserta didik memutuskan proyek atau kegiatan yang akan dilakukan minggu  berikutnya.
i.       Tambahkan sesuai dengan pengalaman anda.
4. Pelaksanaan Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP. Pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup[17].
Pertama, kegiatan pendahuluan, dalam kegiatan pendahuluan guru menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari, menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai, menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.
Kedua, kegiatan inti, pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai Kompetensi Dasar yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativi­tas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pela­jaran. Nursyam[18] menyatakan dalam panduan kegiatan pembelajarannya seperti disadur berikut ini  meliputi proses: EKPLORASI, ELABORASI, DAN KONFIRMASI[19]
 Pengertian
Kegiatan ekplorasi adalah kegiatan pembelajaran yang didesain agar tecipta suasana kondusif yang memungkinkan siswa dapat melakukan aktivitas fisik yang memaksimalkan pengunaan panca
indera dengan berbagai cara, media, dan pengalaman yang bermakna dalam menemukan ide, gagasan, konsep, dan/atau prinsip sesuai dengan kompetensi mata pelajaran.
Kegiatan elaborasi adalah kegiatan pembelajaran yang memberikan kesempatan siswa mengembangkan ide, gagasan, dan kreasi dalam mengekpresikan konsepsi kognitif melalui
berbagai cara baik lisan maupun tulisan sehingga timbul kepercayaan diri yang tinggi tentang kemampuan dan eksistensi dirinya.
Kegiatan konfirmasi adalah kegiatan pembelajaran yang diperlukan agar konsepsi kognitif yang dikonstruksi dalam kegiatan ekplorasi dan elaborasi dapat diyakinkan dan diperkuat sehingga timbul motivasi yang tinggi untuk mengembangkan kegiatan eksplorasi dan elaborasi lebih lanjut.
Mekanisme dan Prosedur
Kegiatan pembelajaran dirancang dalam dokumen perencanaan silabus dan RPP
Silabus merinci kegiatan pembelajaran dalam bentuk kegiatan umum tatap muka, kegiatan tugas terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur, serta secara implisit mencerminkan kegiatan eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi
Dalam RPP, kegiatan tatap muka dan penugasan terstruktur dirinci dalam kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan akhir/penutup. Dalam kegiatan inti dirinci secara ekplisit memuat kegiatan ekplorasi, elaborasi, dan/atau konfirmasi.
Setiap mata pelajaran harus memiliki satu silabus, sedangkan RPP dapat dikembangkan oleh guru sesuai dengan kebutuhannya.
Silabus dan RPP disahkan oleh kepala sekolah pada awal semester, sebelum pembelajaran dilaksanakan.
Bentuk kegiatan eksplorasi dapat dilakukan melalui demonstrasi,eksperimen, observasi langsung, simulasi, bermain peran, dan lain-lain yang memaksimalkan aktivitas fisik
Bentuk kegiatan elaborasi dapat dilakkan melalui diskusi kelompok, pembelajaran kooperatif, pameran, membuat laporan/karya/produk, presentasi, kompetisi, studi kepustakaan, browsing internet, dan lain-lain yang menantang pengembangan kognisi dan kreativitas.
Bentuk kegiatan konfirmasi dapat dilakukan melalui kegiatan refleksi, penilaian langsung, penghargaan atas prestasi atau kemajuan belajar, penilaian kolaboratif, dan lain-lain yang dapat
meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam menindaklanjuti kegiatan pembelajaran berikutnya.
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
1) melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip belajar dari aneka sumber;
2) menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;
3) memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
4) melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan
5) memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.
Dalam kegiatan elaborasi, guru:
1) membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;
2) memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;
3) memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;
4) memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;
5) memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;
6) rnenfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;
7) memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan kreasi; kerja individual maupun kelompok;
8) memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen,festival, serta produk yang dihasilkan;
9) memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.
Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
1) memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik,
2) memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber,
3) memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan,
4) memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar:
a) berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar;
b) membantu menyelesaikan masalah;
c) memberi acuan agar peserta didik dapatmelakukan pengecekan hasil eksplorasi;
d) memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh;
e) memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.
Evaluasi kegiatan pembelajaran termasuk kegiatan ekplorasi, elaborasi, dan konfirmasi dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Evaluasi dilaksanakan dengan observasi, inventarisasi, wawancara, angket, dan studi dokumen oleh kepala sekolah, guru pembina, Litbang, dan/ atau pengawas
Ketiga, kegiatan penutup. Kegiatan guru dalam kegiatan penutup meliputi bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran, melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram, memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran, merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tu­gas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik dan menyampaikan rencana pembelajaran pada per­temuan berikutnya (BSNP, 2007: 14-15).
Pengelolaan Kelas yang baik
Beberapa syarat yang perlu diupayakan agar kelas nyaman dan menyenangkan menurut Ahmad (1997:35) adalah sebagai berikut:

1. Tata Ruang Kelas
Pada prinsipnya , menurut buku petunjuk dari Diknas[20] sistem belajar yang kita anut di SD adalah sistem klasikal. Tetapi ada beberapa metode mengajar yang tidak selalu memakai sisten klasikal, misalnya metode eksperimen, diskusi kelompok, dan lain sebagainya.
Dalam penataan ruang kelas, almari kelas dapat ditempatkan disamping papan tulis atau disamping meja guru. Jika ada almari kelas tambahan dapat ditaruh dibelakang kelas, sebaiknya almari tersebut terbuat dari kaca untuk penyimpan piagam,vandel, dan kepustakaan kelas. Pengaturan tempat perabot kelas dapat dipindah-pindahkan sesuai dengan keadaan atau kondisi setempat.

2. Menata Perabot Kelas
Perabot kelas adalah segala sesuatu perlengkapan yang harus ada  di dalam kelas.Meliputi : (1) papan tulis, (2) meja kursi guru, (3) meja kursi siswa, (4) almari kelas, (5) jadwal pelajaran, (6) papan absensi, (7) daftar piket kelas, (8) kalender pendidikan, (9) gambar-gambar, (10) tempat cuci tangan, (11) tempat sampah, (l2) sapu dan alat pembersih lainnya, dan (13) gambar-gambar alat peraga.Diuraikansebagai berikut:

a. Papan Tulis
Papan tulis harus cukup besar dan permukaan dasarnya harus rata.Warna dasar papan tulis yang mulai menipis atau belang harus segera di cat ulang. Papan tulis harus ditempatkan di depan dancukup cahaya. Penempatannya tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah,sehingga siswa yang duduk dibelakang masih melihat atau membaca tulisan yang paling bawah

b. Meja kursi Guru
Meja kursi guru ukurannya disesuaikan dengan standart yang ada, meja guru berlaci dan ada kuncinya, meja kursi guru ditempatkan di tempat strategis, misalnya di kanan atau di kiri papan tulis, supaya tidak menghalangi pandangan siswa ke papan tulis.

c. Meja kursi Siswa
Meja kursi siswa ditata sedemikian rupa sehinggga dapat menciptakan kondisi kelas yang menyenangkan, ukuran meja dan kursi disesuaikan dengan ukuran badan siswa dan dilengkapi dengan tempat tas atau buku.

d. Almari Kelas
Almari kelas dapat ditempatkan di samping papan tulis atau sebelah kiri atau kanan dinding bisa juga diletakkan di sebelah meja guru.

e. Jadwal Pelajaran
Jadwal pelajaran ditempatkan di tempat yang mudah dilihat.

f. Papan Absensi
Papan absensi ditempatkan di sebelah papan tulis atau di dinding samping kelas. Guru juga harus memiliki catatan daftar hadir siswa di buku khusus, karena daftar hadir di papan diganti setiap hari sesuai keadaan.

g. Daftar Piket kelas
Daftar piket kelas ditempatkan di samping papan absensi.

h. Kalender Pendidikan
Kalender pendidikan ditempel pada tempat yang mudah dilihat.

i. Gambar-Gambar
Gambar Presiden, Wakil Presiden, dan lambing burung Garuda Pancasila ditempatkan di depan kelas di atas papan tulis, posisi penempatannya disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.

j. Tempat Cuci Tangan dan Lap Tangan
Tempat cuci tangan dan lap tangan diletakkan di depan kelas dekat pintu masuk.

k. Tempat sampah
Tempat sampah diletakkan di sudut kelas. Besar kecilnya tempat sampah disesuaikan dengan kebutuhan.

 l. Jam dinding
Jam dinding diletakkan di dinding di depan murid, di atas papan tulis supaya jelas terlihat

5. Model- Model pembelajaran Alternatif PAK

A. EXAMPLES NON EXAMPLES
Contoh dapat dari kasus/gambar yang relevan dengan KD
Langkah-langkah :
  1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran
  2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP
  3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar
  4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas
  5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya
  6. Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai
  7. Kesimpulan

B. PICTURE AND PICTURE
Langkah-langkah :
  1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
  2. Menyajikan materi sebagai pengantar
  3. Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi
  4. Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
  5. Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
  6. Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
  7. Kesimpulan/rangkuman

C. NUMBERED HEADS TOGETHER KEPALA BERNOMOR)
Langkah-langkah :
  1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor
  2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya
  3. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya
  4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka
  5. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain
  6. Kesimpulan

D.KEPALA BERNOMOR STRUKTUR MODIFIKASI DARI NUMBER HEADS
Langkah-langkah :
  1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor
  2. Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomor terhadap tugas yang berangkai
Misalnya : siswa nomor satu bertugas mencatat soal. Siswa nomor dua mengerjakan soal dan siswa nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya
  1. Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. Siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka
  2. Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain
  3. Kesimpulan

E. STUDENT TEAMS-ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD)
TIM SISWA KELOMPOK PRESTASI 
Langkah-langkah :
  1. Membentuk kelompok yang anggotanya  4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll)
  2. Guru menyajikan pelajaran
  3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya tahu menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
  4. Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu
  5. Memberi evaluasi
  6. Kesimpulan

F. JIGSAW (MODEL TIM AHLI)
Langkah-langkah :
  1. Siswa dikelompokkan ke dalam  4 anggota tim
  2. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
  3. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan
  4. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka
  5. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh
  6. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
  7. Guru memberi evaluasi
  8. Penutup

G. PROBLEM BASED INTRODUCTUON (PBI)
    (PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH)
Langkah-langkah :
  1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
  2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
  3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
  4. Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya
  5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan

H. ARTIKULASI
Langkah-langkah :
  1. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
  2. Guru menyajikan materi sebagaimana biasa
  3. Untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan dua orang
  4. Suruhlan seorang dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya
  5. Suruh siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. Sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya
  6. Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami siswa
  7. Kesimpulan/penutup

I. MIND MAPPING
Sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan alternatif jawaban
Langkah-langkah :
  1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
  2. Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa/sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban
  3. Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang
  4. Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi
  5. Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru
  6. Dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi bandingan sesuai konsep yang disediakan guru

J. MAKE - A MATCH (MENCARI PASANGAN)
Langkah-langkah :
  1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban
  2. Setiap siswa mendapat satu buah kartu
  3. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang
  4. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban)
  5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin
  6. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya
  7. Demikian seterusnya
  8. Kesimpulan/penutup

K. THINK PAIR AND SHARE
Langkah-langkah :
  1. Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai
  2. Siswa diminta untuk berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru
  3. Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing
  4. Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
  5. Berawal dari kegiatan tersebut mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diuangkapkan para siswa
  6. Guru memberi kesimpulan
  7. Penutup

L. DEBATE
Langkah-langkah :
  1. Guru membagi 2 kelompok peserta debat yang satu pro dan yg lainnya kontra
  2. Guru memberikan tugas untuk membaca materiyang akan didebatkan oleh kedua kelompok diatas
  3. Setelah selesai membaca materi. Guru menunjuk salah satu anggotanya kelompok pro untuk berbicara saat itu ditanggapi atau dibalas oleh kelompok kontra demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa bisa mengemukakan pendapatnya.
  4. Sementara siswa menyampaikan gagasannya guru menulis guru menulis inti/ide-ide dari setiap pembicaraan di papan tulis. Sampai sejumlah ide yang diharapkan guru terpenuhi
  5. Guru menambahkan konsep/ide yang belum terungkap
  6. Dari data-data di papan tersebut, guru mengajak siswa membuat kesimpulan/rangkuman yang mengacu pada topik yang ingin dicapai

M. ROLE PLAYING
Langkah-langkah :
  1. Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan
  2. Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dua hari sebelum KBM
  3. Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang
  4. Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai
  5. Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan
  6. Masing-masing siswa duduk di kelompoknya, masing-masing sambil memperhatikan mengamati skenario yang sedang diperagakan
  7. Setelah selesai dipentaskan, masing-masing siswa diberikan kertas sebagai lembar kerja untuk membahas
  8. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya
  9. Guru memberikan kesimpulan secara umum
  10. Evaluasi
  11. Penutup

N. COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC)
     KOOPERATIF TERPADU MEMBACA DAN MENULIS
Langkah-langkah :
  1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen
  2. Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran
  3. Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas
  4. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok
  5. Guru membuat kesimpulan bersama
  6. Penutup

6. Masalah-Masalah Dalam Pengelolaan Pembelajaran dan System  Belajar Guru PAK
A. Masalah Pengajaran dan Masalah Pengelolaan Kelas

Dalam menangani tugasnya, guru-guru sering menghadapi permasalahan dengan kegiatan-kegiatan di dalam kelasnya. Permasalahan ini meliputi dua jenis juga, yaitu yang menyangkut pengajaran (Instructional Problem) dan yang menyangkut pengelolaan kelas (Management Problem). Guru-guru harus mampu membedakan kedua permasalahan itu dan menemukan pemecahannya secara tepat. Sangat sering terjadi guru-guru menangani masalah yang bersifat pengajaran dengan pemecahan yang bersifat pengelolaan dan sebaliknya. Misalnya, seorang guru berusaha membuat penyajian pelajaran lebih menarik agar siswa yang sering tidak masuk menjadi lebih tertarik untuk menghadiri pelajaran itu, padahal siswa tersebut tidak senang berada di kelas itu karena dia merasa tidak diterima oleh kawan-kawannya. Pemecahan seperti ini tentu saja tidak tepat. “Membuat pelajaran lebih menarik” adalah permasalahan pengajaran, sedangkan “diterima atau tidak diterima oleh kawan” adalah permasalahan pengelolaan. Masalah pengajaran harus ditangani dengan pemecahan yang bersifat pengajaran dan masalah pengelolaan harus ditangani dengan pemecahan yang bersifat pengelolaan. Untuk dapat menangani masalah-masalah pengelolaan kelas secara efektif guru harus mampu:
a)     Mengenali secara tepat berbagai jenis masalah pengelolaan kelas baik yang bersifat perorangan maupun kelompok;
b)     Memahami pendekatan mana yang cocok dan tidak cocok untuk jenis masalah tertentu.
c)     Memilih dan menetapkan pendekatan yang paling tepat untuk memecahkan masalah yang dimaksud.
Ada dua jenis masalah pengelolaan kelas, yaitu yang bersifat perorangan dan yang bersifat kelompok. Disadari bahwa masalah perorangan dan masalah kelompok seringkali menyatu dan amat sukar dipisahkan yang satu dari yang lain. Namun demikian, pembedaan antara kedua jenis masalah itu akan bermanfaat, terutama apabila guru ingin mengenali dan menangani permasalahan yang ada dalam kelas yang menjadi tanggungjawabnya.
1.     Kompetensi Guru yang kurang maksimal
Sesuai UU No.14 Tahun 2005  Pasal 1 Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidika dasar, dan pendidikan menengah. Dikaitkan dengan PP No.74 Thn 2008   tentang guru disebutkan bahwa guru wajib memiliki hal berikut ini :
1. Kualifikasi Akademik
2. Kompetensi
3. Sertifikat Pendidik
4. Jasmani dan rohani yang Sehat
 5. Kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional
Syarat guru profesional adalah memiliki 4 kompetensi :
1.     Kompetensi pedagogik
2.     Kompetensi kepribadian
3.     kompetensi sosial
4.     kompetensi profesional
Beberapa komponen kompetensi profesional guru menurut B Sijabat [21] adalah berikut ini.
1.     Penguasaan bahan pelajaran beserta konsep-konsep.
2.     Pengelolaan program belajar-mengajar.
3.     Pengelolaan kelas.
4.     Pengelolaan dan penggunaan media serta sumber belajar.
5.     Penguasaan landasan-landasan kependidikan.
6.     Kemampuan menilai prestasi belajar-mengajar.
7.     Memahami prinsip-prinsip pengelolaan lembaga dan program pendidikan di sekolah.
8.     Menguasai metode berpikir.
9.     Meningkatkan kemampuan dan menjalankan misi profesional.
10.  Memberikan bantuan dan bimbingan kepada peserta didik.
11.  Memiliki wawasan tentang penelitian pendidikan.
12.  Mampu menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran.
13.  Mampu memahami karakteristik peserta didik.
14.  Mampu menyelenggarakan administrasi sekolah.
15.  Memiliki wawasan tentang inovasi pendidikan.
16.  Berani mengambil keputusan.
17.  Memahami kurikulum dan perkembangannya.
18.  Mampu bekerja berencana dan terprogram.
19.  Mampu menggunakan waktu secara tepat
Ternyata, masih banyak guru-guru PAK yang belum sepenuhnya mampu mewujudkan kompetensi profesional ini. Akibatnya pengelolaan pembelajaran belum maksimal.

2.     Guru PAK kurang berkemauan kuat untuk mengubah kebiasaan  memakai berbagai model pembelajaran. Walaupun sudah mengikuti diklat PLPG , ternyata ketika di lapangan , masih tetap memakai model pembelajran tradisonal yang berpusat kepada guru (Teacher Center)
3.     Guru PAK banyak belum siap dengan penggunaan Teknologi Informasi (TI).
Inovasi dalam teknologi pendidikan, terutama dalam pemakaian Teknologi Informasi (TI), ternyata  telah membuka banyak inovasi baru di berbagai bidang, misalnya internet. Internet yang semula dipakai dalam kegiatan akademis, sekarang ini telah menjadi bagian keseharian masyarakat . Interaksi semu hanya memakai email, sekarang telah menjadi forum diskusi, situs, on line chat sampai audio-video conferencing. Inovasi terbaru sebagai bagian dari pengembangannya, saat ini sudah dikembangkan e-portofolio (yaitu kumpulan karya atau tulisan sebagai bukti hasil belajar atau nilai), e-book, dan e-learning. Kedua hal terakhir ini dikembangkan pemerintah untuk menjawab tantangan pembelajaran di Indonesia yang membutuhkan system pembelajaran jarak jauh, dan mengingat mahalnya harga buku.
4.     Sarana dan Prasarana  sekolah tidak mendukung

7. Guru PAK Kualifikasi Unggul

Sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia No.16 Thn 2010 Tentang Pengelolaan Pendidikan Agama Pada Sekolah, Pasal 16 dikatakan (1) Guru Pendidikan Agama harus memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, profesional, dan kepemimpinan. Sebagai pendidik profesional, guru PAK harus kualifikasi unggul. Hardi Budiyana[22] dengan  mengutip pendapat Gilbert A. Peterson, mengusulkan beberapa kualifikasi unggul seorang guru PAK sebagai berikut :
1.     Bertumbuh dalam iman kepada Kristus.
2.     Bertumbuh dalam kehidupan Kristen. Hal itu berkaitan dengan tingkat kepenuhan Roh Kudus dalam diri seseorang,
3.     Sikap yang positif, mempunyai semangat rohani . Gilbert menekankan bahwa kata enthusiasm berasal dari akar kata theos. Artinya , semangat kekristenan harus berkaitan dengan cinta akan Tuhan.
4.     Mempunyai pengetahuan teologia Alkitabiah
5.     Mempunyai keahlian (ekspertasi) dalam mengajar seperti membuat tujuan, memilih dan menggunakan metode, mengkomunikasikan bahan ajar , mengorganisasi pembelajaran, dsb
6.     Mempunyai contemporary alertness. Maksudnya adalah kewaspadaan terhadap kehidupan duniawi yang jahat, termasuk pengaruh setan-setan.
7.     Mimiliki kesiapan mental dan fisik sebelum mengajar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar