Senin, 05 Maret 2018


Pola Asuh Kristen :
Suatu Kajian Teologi, Pedagogi, Metodologi Dan Implementasinya Di Sekolah

Albet Saragih

Abstrak
Pola asuh Kristen adalah style hidup orang percaya. Pola itu sendiri sudah teruji menjadi berkat bagi umat Allah, baik masa PL maupun kekristenan mula-mula. Pola asuh yang alkitabiah ini tidak pernah usang. Di tengah zaman yang serba canggih sekarang ini, ada banyak nilai-nilai pola asuh kristiani itu semakin ditinggalkan, digantikan pola asuh modern yang sekuler seperti materialis, individualis, pragmatis, dsb. Sekolah-sekolah Kristen , sebagai wahana pendidikan, pengajaran, dan pengasuhan kristiani,  menghadapi tantangan itu secara masiv. Sekolah Kristen dituntut tetap teguh akan jati dirinya sebagai lembaga yang menyiapkan dan memelihara umat pilihan Tuhan. Karena itu, sekolah-sekolah kristiani senantiasa dengan konsisten memelihara dan mengembangkan serta menerapkan pola asuh secara kristiani baik secara teologi, pedagogi, dan metodologinya. Serta melakukan berbagai kajian dan terobosan dan konteks  tersebut.
Kata kunci : Pola Asuhan Kristen, Kajian Teologi, Pedagogi, Metodologi

Pendahuluan
Indonesia saat ini, menurut berbagai kalangan, mengalami kemerosotan di berbagai dimensi. Dan merupakan persoalan krusial yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini menurut Bungaran Antonius Simanjuntak, Guru besar Antropologi Universitas Negeri Medan[1]. Kemerosotan-kemerosotan di berbagai dimensi kehidupan ini, adalah salah satu dampak langsung ataupun tidak langsung dari kemerosotan kualitas pendidikan beberapa dasawarsa terakhir  ini.
Kekristenan adalah bagian melekat di dalam bingkai berbangsa dan bernegara Indonesia. Karenanya, orang-orang Kristen juga tidak luput ikut serta sebagai penyebab dari kemerosotan-kemerosotan tersebut. Apa yang seharusnya menjadi panggilannya untuk menjadi garam dan terang dunia sebagai makin terabaikan.
Salah satu sumber penyebab dari kemerosotan itu adalah pada karakter kristiani yang belum dapat disumbangkan secara signifikan oleh dunia Pendidikan Agama Kristen. Sebagai sumber pembentukan, pelestarian dan pembaruan budaya masyarakat, sekolah-sekolah  Kristen dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga  Perguruan Tinggi (PT) seyogianya menjadi salah satu wadah pembentuk karakter kristiani untuk mentransformasi budaya bangsa ke arah yang lebih baik, lebih maju, lebih beradab dan sejahtera berkemakmuran. Namun tak dinyana, gejala penyakit masyarakat Indonesia seperti KKN, aji mumpung, menghalalkan segala cara demi tujuan, dan suka menyogok, enggan bekerja keras, tamak, konsumeris, perjudian, percabulan, serta tindakan tak bermoral lainnya juga melanda warga kristiani.
Pertanyaannya adalah, apa yang salah pada sekolah-sekolah Kristen? Bukankah sudah teruji dalam sejarah bahwa sekolah-sekolah Kristen di masa lalu, dikelola dengan hati penuh pengabdian, mampu menghasilkan lulusan-lulusan bermutu tinggi sehingga dapat mengisi formasi jabatan-jabatan  penting di negara ini.
Menurut Yudhistira ANM Massardi: ”Tantangan abad ke-21 dan generasi 2045 (menandai 100 tahun Proklamasi Kemerdekaan) adalah membangun manusia bebas yang berkeahlian sesuai minat dan kemampuan individual (era inteligensia). Pendidikan menuju masa depan adalah pendidikan yang membebaskan, membuka pintu bagi anak didik agar bisa mewujudkan cita-cita sesuai minat dan bakat masing-masing. Mereka akan menjadi pribadi mandiri yang siap saling berkolaborasi[2]. Bagaimanakah orangtua Kristen memiliki pola asuh dalam mengasuh anaknya di era persaingan global ini? Dimanakah  implikasi  buah-buah dari pola asuh kristiani yang didapatkan selama ini? Tidakkah berbuah asuh kristiani yang tersosialisasi di tengah-tengah keluarga dan Pendidikan Agama  Kristen  selama ini?
Menurut Jongkers Tampubolon, Rektor Universitas HKBP Nomensen Medan dalam suatu acara wisuda di kampusnya, para alumni Sekolah  Kristen, ditantang untuk memberi kontribusi bagi perbaikan sistem pendidikan di negeri ini, yang saat ini menjadi sorotan karena semakin kehilangan karakter dan bahkan menurut berbagai kalangan pendidikan kita sedang dalam krisis peran, krisis fokus, krisis kurikulum, krisis proses, dan krisis visi. Dunia pendidikan kita saat ini, menurutnya, menjadi objek kepentingan politik[3]
Arthur F. Holmes dalam Thomas H. Groome menyatakan: “Sekolah Kristen terpanggil untuk melengkapi anak didik”[4] Bahwa pendidikan baik di tengah-tengah keluarga maupun di Sekolah  Kristen merupakan panggilan terhadap sosialisasi nilai-nilai kristiani dalam rangka kedewasaan dan kemandirian anak-anak.  Untuk itu, sekolah-sekolah  Kristen harus dikelola dengan  manajeman modern berbasis kontekstual, di mana para pendidik dan nara didiknya diasuh dengan kasih yang tulus,lemah lembut,  berlandaskan Firman Tuhan, cermat, dan bijaksana.
Demikian halnya guru-guru di sekolah-sekolah Kristen memiliki pola asuh Kristen dalam mengasuh anak-anak didiknya. Prinsip pola asuh Kristen itu juga mewarnai kebijakan-kebijakan dan sikap perlakukan para yayasan atau pemimpin/ pengelola sekolah Kristen mengasuh para staf tenaga kependidikan dan non kependidikannya. Sehingga semua komponen bersinergi menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi; baik dalam IPTEK, karakter, maupun semangat pengabdian.
Pendidikan Agama  Kristen mempromosikan tujuannya yang mengutamakan “pola asuh dan pembentukan karakter orang-orang Kristen”. Pendidikan kristiani ini menggunakan pendekatan progressive experiental (masalah-masalah kehidupan) sebagai titik tolak. Pendidikan Agama Kristen kemudian menekankan perlunya mentransmisikan warisan-warisan kristiani sebagai muatan utama dalam pendidikan[5]. Adapun warisan–warisan kristiani yang dimaksud di antaranya  menyangkut: iman, pengharapan, kasih, serta  karakter pengabdian sebagai hamba, sama seperti teladan Tuhan Yesus  .
Di sekolah  Kristen, guru  tidak hanya menonjolkan fungsinya sebagai pengajar. Akan tetapi guru berperan menjadi orangtua kedua bagi murid-murid untuk melakukan pola asuh Kristen kepada mereka. Dalam hal ini, guru harus dapat memberikan pola asuh Kristen yang tepat sesuai dengan perkembangan anak, agar dapat mewujudkan pola asuh yang diberikan kepadanya dengan baik. Pola asuh guru akan mempengaruhi bagaimana anak itu memandang, menilai, dan juga mengambil sikap terhadap orangtua, guru dan masyarakat, serta mempengaruhi kualitas hubungan yang berkembang diantara mereka.
Selanjutnya, dalam ruang lingkup pendidikan kristiani, pola asuh guru di sekolah  Kristen dalam mendidik anak merupakan sebuah tanggung jawab iman yang harus dilakukan. Sebab hal itu ada kaitannya dengan perintah langsung dari Allah kepada orangtua — dalam hal ini fungsi guru sebagai orangtua kedua di sekolah.
”Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun” (Ul 6: 5-7). Dari nats di atas, ditekankan bahwa adalah kewajiban orangtua di rumah  maupun guru di sekolah  Kristen, untuk mendidik dan mengajar anak-anaknya dalam situasi apapun.
Kurangnya pemahaman para pendidik terhadap urgensi masalah pola asuh Kristen sebagai salah satu tiga fondasi Pendidikan Agama Kristen – pendidikan/ pengajaran, pelatihan, pola asuh – menjadi penyebab terjadinya ketimpangan dalam Pendidikan Agama  Kristen dewasa ini. Sekolah-sekolah Kristen secara serius mengupayakan pendidikan/ pengajaran secara akademik berkualitas, yang dipadukan dengan pelatihan-pelatihan yang terintegrasi. Kualifikasi akademik lulusan berusaha dijaga mutunya. Namun di sisi lain, kualitas asuhan kristiani mereka sebagai lemah. Hampir tidak ditemukan sesuatu yang spesifik dan menonjol pada pola asuh kristiani di sekolah-sekolah Kristen bila dibandingkan dengan berbagai sekolah negeri dan sekolah swasta nasional lainnya. Atau nilai-nilai karakter kristiani yang khas dimiliki murid baru di sekolah-sekolah Kristen sebagai hasil dari pola asuh kristiani dari orangtua. Secara pengamatan sepintas, masih kurang berpengaruh signifikan pola asuh Kristen terhadap hasil studi peserta didik. 
Pola asuh guru terhadap anak-anak di sekolah Kristen, sebagai yang terabaikan. Hal itu bersumber dari adanya pemahaman yang kurang tepat dari kalangan guru sendiri.  Seakan-akan hanya tugas utama guru di sekolah Kristen hanya bertumpu untuk melakukan pendidikan/ pengajaran dan pelatihan saja. Dan memang, tentang hal pola asuh ini tidak diatur  Undang-Undang No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dimana dalam Undang-Undang tersebut dijelaskan bahwa guru profesional  memiliki 4 kompetensi :   meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi[6].
Secara eksplisit, di dalam kompetensi guru ini tidak diatur dengan jelas tentang pola asuh yang perlu dilakukan guru di sekolah. Bahwa kalau berbicara soal pola asuh, maka yang terbersit di benak pada umumnya orang adalah apa yang dilakukan orangtua di rumah saja. Singkatnya, istilah pola asuh selalu dikaitkan sekitar didikan orangtua dalam keluarga. Tetapi sesungguhnya tidak demikian. Bahwa sebagai pengganti orangtua yang mendidik anak di sekolah, guru tidak luput tanggung jawabnya juga dalam pola asuh. Keprofesionalan guru tanpa dibarengi dengan semangat pola asuh sebagaimana laiknya hati orangtua kepada anaknya, maka itu bisa diibaratkan seperti sayuran yang banyak bumbu, tapi kurang garam. Rasanya hambar. Profesi keguruan menjadi sebuah kegiatan yang bersifat mekanis saja.
Sekolah-sekolah Kristen didirikan tidak lepas dari perwujudan panggilan untuk mewujudkan nilai-nilai kristiani baik kepada anak didiknya, dan juga seluruh staf guru dan pegawainya. Nilai-nilai kristiani seperti;  takut akan Tuhan, kejujuran, kebenaran, kasih , persekutuan, pengharapan, keadilan, solidaritas, dan kesetaraan gender, tidak akan dapat begitu saja terwujud dalam kehidupan para nara didik hanya sebatas profesional saja. Tapi karena hal-hal di atas menyangkut kepada buah-buah keyakinan itu sendiri, maka pola asuh  Kristen dari para pimpinan perguruan, guru-guru maupun staf pegawai menjadi sangat urgen. Karena peserta didik melihat guru, pegawai dan yayasan itu menjadi modelnya. Tapi juga bagaimana  mereka  membangun atmosfir di mana benih-benih nilai-nilai kristiani tersebut dari pengajaran/ pendidikan menuju pelatihan dan selanjutnya menjadi habit (kebiasaan)  atau  gaya hidup. Nah, atmosfir pola asuh semacam inilah yang hampir hilang di sekolah-sekolah  Kristen, tergerus karena pemahaman pelaksanaan profesi keguruan yang bersifat mekanis semata.
Pola Asuh  Kristen Kajian Teologi
Data tentang kata asuh, pola asuh di dalam  PL dan PB, cukup banyak ditemukan. Data Alkitab [7]: Asuh: Yes 1:2, “Aku membesarkan anak-anak dan mengasuhnya, tetapi    mereka memberontak terhadap Aku. Membesarkan anak-anak: “Anak-anak yang dimaksud adalah umat Israel. Tuhan memanggil langit dan bumi sebagai  saksi untuk dosa Israel [8].
Pola Asuh dalam Perjanjian Lama
Dalam 2 Samuel 4:4, Yonatan, anak Saul, mempunyai seorang anak laki-laki, yang cacat kakinya. Ia berumur lima tahun, ketika datang kabar tentang Saul dan Yonatan dari Yizreel. Inang pola asuhnya mengangkat dia pada waktu itu, lalu lari, tetapi karena terburu-buru larinya, anak itu jatuh dan menjadi timpang. Ia bernama Mefiboset. Yes. 49:23: “Maka raja-raja akan menjadi pola asuhmu dan permaisuri-permaisuri mereka menjadi inangmu. Mereka akan sujud kepadamu dengan mukanya sampai ke tanah dan akan menjilat debu kakimu. Maka engkau akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, dan bahwa orang-orang yang menanti-nantikan Aku tidak akan mendapat malu."



Prinsip Pemahaman Dasar
1.      Menikah dan membesarkan anak-anak bagi kemuliaan Allah (Kej 2:24; 9:1,7; 1 Tim 5:14).
2.      Anak-anak adalah berkat dari Allah, yang telah Dia perintahkan (Maz 127:3-5).
3.      Orangtua harus mengajar anak-anaknya  dan membesarkan mereka dalam nasihat Tuhan (Ul 4:9, 10; Maz 78:1-7).
4.      Anak-anak  harus mendengar dan belajar untuk takut akan Tuhan Allah  dan memelihara setiap firman dan hukum (Ul 31:12,13; Maz 34:11; Ams 5:1,2; 6:20-23; 23:26).
5.      Sama seperti  melatih, mengajar dan mendidik anak-anak, orangtua  juga harus mendisiplinkan dan membetulkan mereka apabila diperlukan.Ams 13:24; 19:18 ; 22:15;l 23:13-16
Ul. 6:4-9 menjadi sentral pengajaran Pendidikan Agama Kristen. Kitab-kitab lain yang membahas tentang pendidikan bersumber dari kitab Ulangan ini. Ayat 7: "Haruslah engkau mengajarkan berulang-ulang "kepada anakmu" membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau bangun.". Mereka yang mengasihi Allah, mengasihi Firman-Nya dan melakukannya dengan meditasi, bertanggung jawab untuk merenungkannya dan menyimpannya dalam hati untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Orangtua mempunyai tugas untuk mengajarkan Firman-Nya kepada anak-anak dengan didikan dan harus dimulai sejak dini dan berulang-ulang. Ayat 7 ini dipakai sebagai fondasi kurikulum Pendidikan Agama  Kristen.
Orang Yahudi mengerti perintah ini dan melakukannya secara harafiah. Umat harus menghafal perkataan ini dan menunjukkannya di depan umum. Sebagian orang Yahudi menaruh ayat-ayat ini di dalam kantung-kantung kulit yang kecil (filakteria). Kantong ini diikatkan pada lengan dan dahi mereka[9]. Kantong atau kotak kulit yang berisi ayat-ayat Hukum Taurat ini disebut “Mezuza”.
Harus mengajar anak-anak
Orang Kristen harus mengajar anak-anaknya dan membesarkan mereka dalam nasihat Tuhan (Ul 4:9, 10; Maz 78:1-7). Harus mengajar anak-anak  di setiap masa: menurut catatan Alkitab Penuntun tentang ayat ini: “ salah satu cara utama untuk mengungkap kasih kepada Allah (ay 5) ialah mempedulikan kesejahteraan rohani anak-anak  dan berusaha menuntun mereka kepada hubungan yang setia dengan Allah[10]. Di dalam Ul 6:7 : “Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”
      Frasa “mengajarkan berulang-ulang” kata Ibrani yang dipakai dalam ayat ini adalah "shinnantam", yang berasal dari akar kata "shanan" yang berarti mengasah atau menajamkan, biasanya untuk pedang atau anak panah. Kata ini dipakai sebagai simbol untuk menggambarkan kegiatan yang dilakukan berulang-ulang seperti orang mengasah sesuatu pedang atau anak panah dengan tujuan untuk menajamkannya. Orangtua tidak dapat hanya mengandalkan khotbah atau pelajaran Alkitab setiap hari Minggu untuk memberi "makanan rohani" dan menajamkan  anak-anak mereka. Orangtua maupun guru harus secara rutin dan dalam segala kesempatan menyampaikan kebenaran firman Tuhan kepada anak-anak mereka. Lebih jauh lagi, orangtua dan guru harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anak mereka, bukan hanya melalui perkataan, tapi juga perbuatan
            Lebih jauh dijelaskan tentang urgensi pendidikan kepada anak dalam catatan dimaksud.
1.      Pembinaan rohani anak-anak seharusnya merupakan perhatian utama semua orangtua (bnd Maz 103:13).
2.      Pengarahan rohani harus berpusat di rumah, dan melibatkan ayah dan ibu. Pengabdian kepada Allah di dalam rumah tangga wajib dilakukan; hal itu adalah perintah langsung dari Tuhan (Ul 6:7-9; bnd 21:18; Kel 20:12; Im 20:9; Ams 1:8; 6:20; 2 Tim 1:5).
3.      Tujuan dari pengarahan oleh orangtua ialah mengajar anak- anak untuk takut akan Tuhan, berjalan pada jalanNya, mengasihi dan menghargai Dia, serta melayani Dia dengan segenap hati dan jiwa (Ul.10:12; Ef 6:4).
4.      Orang percaya harus dengan tekun memberikan kepada anak-anaknya pendidikan yang berpusatkan Allah, dimana segala sesuatu dihubungkan dengan Allah dan jalan-jalanNya (bnd Ul. 4:9; 11:19; 32:46; Kej 18:19; Kel 10:2; 12:26-27; 13:14-16; Yes 38:19)[11].
Dalam kerangka didikan, ajaran dan pelatihan inilah harus ada di dalamnya asuh yang baik. Ibu-bapa akan berfungsi sebagai penjaga anak-anak, penopang dan pelindung sehingga anak-itu menjadi dewasa dan bisa menjaga dirinya sendiri. Anak-anak harus mendengar dan belajar untuk takut akan Tuhan Allah kita dan memelihara setiap firman dalam hukum (Ul 31:12,13; Maz 34:11; Ams 5:1,2; 6:20-23; 23:26). Mereka bukan saja diajar dalam rumah tetapi juga di perkumpulan yang ditetapkan oleh Allah (Yos 8:35; Kel. 13:8-10, 14-16; Ul. 31:12).
Bagaimana cara dan sikap guru menginternalisasikan nilai-nilai kristiani melalui pola asuh yang diwujudkannya kepada para murid, itu akan menumbuh-suburkan pengenalan dan pembentukan sikap-sikap perlakuan imannya dalam kehidupan sehari-hari. Agar guru berhasil dalam panggilannya mengubah hidup para muridnya, menarik untuk disimak apa yang dikemukakan oleh Howard G. Hendrik, “Jika Anda hendak melayani menjadi guru, mintalah Allah terlebih dahulu melayani Anda. Dia akan memakai Anda sebagai alat-Nya, agar semakin efektif di tangan-Nya”[12].  Jadi penundukan diri seorang guru kepada kuasa dan urapan Tuhan, begitu penting. Sebab sesungguhnya seorang guru harus mengakui bahwa yang dapat mengubahkan hati muridnya bukan dirinya, melainkan Tuhan Sang pemilik hidup itu sendiri. Tapi hal itu tidak berarti bahwa kompetensi dan keteladanan guru tidak berpengaruh. Bahwa kedua komponen ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam mendidik dan mengasuh anak menuju perubahan hidup.
Pola Asuh  Kristen Dalam PB
Lukas  2:51-52  tertulis “Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia hidup dalam asuh mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia”. Frasa ”bertambah besar” pada ayat ini memberi pengertian dalam empat hal  : pertama, Dia bertambah “besar” – pertumbuhan fisik; Kedua, Dia bertambah “hikmat-Nya“, “hikmat-Nya”; Ketiga, Dia “makin dikasihi” oleh  Allah” berarti pertumbuhan rohani; dan keempat, Dia makin “dikasihi manusia“ berarti pertumbuhan sosial dan emosional[13].
Menurut pemahaman peneliti, frasa “bertambah hikmatNya” di sini mencakup pertumbuhan otoritas dan penguasaan-Nya atas Firman Allah serta perkembangan  intelektualNya, secara menusiawi. Kis 7:21         tertulis “Lalu ia dibuang, tetapi puteri Firaun memungutnya dan menyuruh mengasuhnya seperti anaknya sendiri.” Dalam Ef  5:29:  “Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat.”  Mengasuh diterjemahkan dari Bahasa Inggris  nourish”, bersumber dari Bahasa Yunani “ ektrepho”.  Dalam 1 Tes 2:7 tertulis ”Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya anak, memberi tumpangan, membasuh kaki saudara-saudara seiman, menolong orang yang hidup dalam kesesakan — pendeknya mereka yang telah menggunakan segala kesempatan untuk berbuat baik.”
Mengasuh, Bahasa Inggris diterjemahkan “even as a nurse cherishets, dari kata Yunani “trophos = pola asuh seorang akan menyusu.
Di dalam catatan Alkitab Edisi Studi[14], tentang anak-anak dan orangtua dijelaskan:  anak-anak adalah milik Tuhan, karena itu orangtua harus memperlakukan mereka dengan hormat dan mengajar mereka tentang Tuhan. Penulis Surat Galatia juga mengulangi salah satu dari Sepuluh Firman Allah (Kel 20:12; Ul 5:16) untuk mengingatkan orang-orang  Kristen bahwa ketaatan anak kepada orangtua mereka adalah jalan untuk mencapai salah satu janji Allah, yaitu kebahagiaan dan umur panjang.
Kewajiban yang penting  dari para orangtua (Yun, pater; jamak, pateres, dapat berarti “ayah-ayah” atau “ayah dan ibu”) ialah memberikan kepada anak mereka ajaran dan teguran yang termasuk pola asuh  Kristen. Orangtua harus menjadi teladan dalam kehidupan dan perilaku  Kristen, serta lebih mempedulikan keselamatan anak mereka dari pada pekerjaan , profesi, pelayanan mereka di gereja atau kedudukan sosial mereka.[15]
Pola asuh di Sekolah  Kristen yang dimaksudkan dalam uraian ini adalah  berarti sistem atau model atau cara pendidik di sekolah Kristen dalam merawat, mendidik, dan melatih anak-anaknya  untuk  menanamkan  nilai-nilai iman  Kristen supaya karakter mereka bertumbuh menjadi manusia dewasa, baik jasmani maupun rohani, sehingga mampu menjawab panggilan Tuhan dalam hidupnya. Pola asuh ini berarti orangtua atau pendidik  mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan dengan norma-norma yang ada di masyarakat.
Pola asuh Kristen juga berarti bagaimana orangtua atau guru menjalin interaksi dengan anak-anak di atas dasar kasih Kristus. Pendidik yang hatinya dipenuhi kasih Kristus akan berusaha dengan segenap hatinya untuk mengembangkan bakat dan minat muridnya.
Menurut Alfie Khon, “Guru yang baik ialah yang menghormati dan bekerja keras untuk mencari tahu apa yang sudah diketahui murid-muridnya. Memulai dari apa yang diketahui murid dan bekerja berdasarkan hal tersebut, serta mencari tahu kebutuhan dan minat murid”[16].
Guru yang bermutu tinggi yang ingin menjadi seperti Yesus perlu mengasihi murid-muridnya dengan kasih yang  lembut  tetapi kuat. Jodi Capehart, [17] seorang pendidik dan konsultan  Pendidikan Agama  Kristen bagi banyak  Sekolah  Kristen dan gereja  di Amerika Serikat, menuliskan cara-cara menyatakan kasih dan kepedulian guru di sekolah Kristen terhadap muridnya sebagai berikut:
a.      Penyaluran kasih secara fisik, yaitu Melakukan kontak mata; Mendekat; Memberikan pelukan; Menepuk pundak; Memangku.
b.      Penyaluran kasih secara emosi, yaitu Memuji; Menyetujui; Mendorong; Memberikan waktu.
c.       Penyaluran kasih secara intelektual, yaitu Memberikan hasil riset yang Anda tahu disukai seorang murid; Membaca buku tentang suatu hal yang menarik bersama-sama; Mengasihi dan mendorong anak melakukan yang terbaik.
d.      Penyaluran kasih secara rohani, yaitu Membagikan kasih Tuhan melalui perbuatan, bukan hanya perkataan; Berdoa bersama anak; Menggarisbawahi pandangan rohani seorang anak.
Pola asuh kajian teologis sesuai Ulangan 6: 4-9 memberikan landasan kepada para pendidik yang dalam fungsinya menjadi orangtua yang kedua bagi anak-anak. Para pendidik melakukan pola asuh Kristen kepada murid-murid melalui pemahaman berikut:
1. Pola Asuh Kristen dalam kajian teologis berdasarkan Ul.6:4-9 dan penerapannya. Nilai-nilai Pola asuh  Kristen yang ditonjolkan adalah: (1) Pendidik yang lahir baru, (2) Pemahaman bahwa murid-murid adalah titipan illahi, (3) Menghargai murid dalam segala eksistensi dan karyanya. (4) Membangun relasi yang akrab  dengan murid, (5) Mengasihi murid, (6) Tidak berlaku kasar terhadap murid, (7) Pendisiplinan murid, (8) Membangun karakter Kristus pada murid melalui : a). Ibadah-ibadah anak setiap hari; b). Ibadah Guru-guru setiap pagi membangun spritualitas; c). Ibadah umum guru bersama semua murid setiap Sabtu; (d). Melatih murid melayani dalam ibadah, (9). Visi dan misi serta  cor values (nilai- nilai inti)

Pola Asuh Kristen Kajian    Pedagogis
Pola Asuh Kristen Kajian Pedagogi adalah seluruh hal kegiatan guru yang berhubungan kemampuan, keterampilan, profesionalitas dan panggilannya secara rohani menjadi pendidik sekaligus bapa/ ibu rohani bagi murid-muridnya. Bagaimana pendidik membangun karakter Kristus ada pada murid. Karakter yang dimaksud adalah kebiasaan-kebiasan dalam diri dan kehidupan seorang anak yang telah tertanam dan berurat akar sebagai hasil belajar dalam lingkungan di mana anak tersebut dibesarkan. Pembelajaran yang diupayakan kepada anak tentunya didasari dengan kebenaran Firman Tuhan. Dengan demikian usaha untuk melakukan kajian pedagogi bagaimana sesungguhnya pola asuh  Kristen diwujudkan di sekolah  yang tercakup : (1) spritualitas dan profesionalitas guru, (2) tujuan pendidikan Kristen, (3) syarat menjadi guru di Sekolah Kristen, (4) kewajiban dan tanggung jawab pendidik di Sekolah Kristen ,(5) pembinaan karakter Kristus pada murid, (6) pembinaan karakter adalah kerja sama orangtua, sekolah,  dan gereja.
Pola Asuh Kristen Kajian Metodologis
Hal ini menyangkut metode atau cara bagaimana pola asuh Kristen itu diaplikasikan pendidik kepada para murid.  Aplikasi metode pola asuh Kristen baik di sekolah, maupun aplikasi metode pola asuh Kristen saat di luar sekolah dalam lingkup program sekolah.
Aplikasi Pola Asuh Kristen dapat berlangsung di dalam maupun di luar sekolah di Sekolah. Penerapan pola asuk Kristen di dalam sekolah meliputi:
a.           Perhatian, Didikan, dan Kepedulian Kepada Anak Sebagai Aspek Dasar Pola Asuhan Kristen
Kehadiran anak-anak di kelas untuk belajar adalah tanggung jawab guru. Dalam proses pembelajaran dimaksud, tidak hanya terletak pada cara bagaimana bahan pelajaran apa yang disajikan. Tapi kesediaan pendidik untuk memperhatikan diri muridnya. Guru peduli dengan buku-buku yang mereka bawa, PR yang diberikan harus dikoreksi dan hasilnya diserahkan kepada murid. Mengasuh muridnya bagaimana berlaku sopan, baik kepada guru, orangtua, maupun setiap orang. Mengasuh mereka untuk memiliki semangat juang yang tinggi, dapat bekerja keras, dan bisa bekerja sama dengan orang lain. Guru harus bersedia menyisihkan waktunya untuk memperhatikan kebersihan diri murid-muridnya.
Para guru hendaknya sangat ramah dan memperlakukan murid dengan sopan dan berharga. Pemahaman teologisnya, karena anak adalah mahluk ciptaan Tuhan yang mulia, yang dititipkan kepada mereka untuk diasuh dengan sebaik-baiknya. Sehingga melalui sikap-sikap para gurunya yang ramah dan sopan, kiranya para murid juga meniru mereka. Salah satu tindakan keramahan dimaksud, adalah guru menyambut dan menyalami anak di pagi hari di pintu gerbang sekolah.
b.      Ibadah Sebagai Dasar Pola Asuh Kristen
Adapun kegiatan-kegiatan ibadah yang dapat dilakukan antara lain: (a) Ibadah guru-guru; (b) Ibadah pagi  PG/TK, SD dan SMP setiap pagi dari Senin – Jumat; (c) Ibadah bersama TK, SD,  SMP setiap Sabtu akhir pekan; (d) Doa dan pembacaan renungan untuk memulai pelajaran di kelas masing-masing; (c). Pendidik sangat memperhatikan makanan murid dan melarang jajan di sekolah; (d). Peran satpam dan CS (Clining Servis) dalam pola asuh Kristen di sekolah.
Aplikasi pola asuh Kristen di luar sekolah dalam lingkup program sekolah diwujudkan melalui pembinaan iman dan karakter dalam bentuk : Retreat, mission trip, out bond, dan sleep over, dan kegiatan lainnya.

Kesimpulan

Pola asuh Kristen  adalah bagaimana memberi rasa nyaman bagi anak-anak dalam proses pembelajaran di sekolah. Alasannya, kalau anak merasa nyaman belajar, nyaman dalam berhadapan dengan guru, maupun sesama temannya, tentu dia betah belajar. Mengajak anak bercanda, tentu sangat menyenangkan hati mereka. Sehingga pendidik dekat sekali –dalam artian emosional—dengan murid-muridnya. Dan itu menjadi modal awal dalam memberhasilkan pembelajaran pada anak-anak.

Kepustakaan
Alfie Khon, “The School Our Children Deserve” (terjemahan), Tangerang: Penerbit Lentera Hati, 2009
 Alkitab Edisi Studi, Jakarta: LAI, 2010
Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan.  Malang ; Gandum Mas, 2004,
Capehart, Jodi Touching HeartsChanging Lives (terjemahan) . Jakarta: Metanoia Publising, 2012,
Harian “Sinar Indonesia Baru”, Senin 4 November 2013
Howard, Hendrik, Teaching to Change Lives. Colorado Springs: Multonomah Books, 1987
Kompas, Sabtu 23 Maret 2013
Simanjuntak, Bungaran Antonius, Indonesia Masa Kini dan Masa Depan. (Tantangan terhadap Pluralisme dan Multikulturalisme Indonesia), Makalah dalam Seminar Nasional Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara (STTSU) pada 27 Februari 2013 di Hotel Danau Toba Medan
Situmorang, Jonar, Filsafat Dalam Terang Iman  Kristen. Yogyakarta : Andi, 2004
Sutanto, Maryam K.T.K., Tabloid Penabur Jakarta No.29 tahun 2009
UU  No.Undang-Undang Nomor 14  tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
Walker, D.F., Konkordansi Alkitab Edisi 15, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011


[1]Bungaran Antonius Simanjuntak, Indonesia Masa Kini dan Masa Depan: Tantangan terhadap Pluralisme dan Multikulturalisme Indonesia, Makalah dalam  Seminar Nasional Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara (STTSU) pada 27 Februari 2013 di Hotel Danau Toba Medan.
[2]  Kompas, Sabtu 23 Maret 2013, hal.7
[3] Harian “Sinar Indonesia Baru”, Senin 4 November 2013, hal.14
[4] Jonar Situmorang, Filsafat Dalam Terang Iman  Kristen. Yogyakarta : Andi, 2004, hal.123
[5]Maryam K.T.K. Sutanto, Tabloid Penabur Jakarta No.29 tahun 2009
[6] UU  No.Undang-Undang Nomor 14  tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
[7]D.F. Walker, Konkordansi Alkitab Edisi 15, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011, hal.31
[8] Catatan Alkitab Edisi Studi, Jakarta: LAI,  2010, hal.1082
[9] Ibid. Hal.296
[10] Catatan dari Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan.  Malang: Gandum Mas, 2004, hal. 285
[11] Ibid, hal.285
[12] Hendrik Howard, Teaching to Change Lives. Colorado Springs:Multonomah Books, 1987, hal.20
[13] Howard G Hendrik, Mengajar Untuk Mengubah Hidup” . Jakarta : Yayasan Gloria 2011, hlm .29
[14]Alkitab Edisi Studi opcit, hal.1923
[15]Alkitab Hidup Berkelimpahan opcit, hal.1994
[16]Alfie Khon, “The School Our Children Deserve” (terjemahan), Tangerang: Penerbit Lentera Hati, 2009, hal.12 
[17] Jodi Capehart, Touching HeartsChanging Lives (terjemahan) . Jakarta: Metanoia Publising, 2012, hlm.163-164